Enam Perbuatan Mulia Sang Pengasih

0
896

Aksara ren yang artinya sabar, menggambarkan sebilah pisau yang tertancap di atas hati. Hal ini melukiskan bahwa bersabar itu sangatlah menderita bagaikan hati kita tertusuk pisau . dalam derita harus sabar, saat tak mampu bersabar pun harus tetap sabar. Teknik kesabaran seperti ini sungguh sangat berbahaya, karena kapan saja bisa meledak. Kesabaran seperti ini merupakan sebuah tindak penyiksaan diri, yang akan mengakibatkan sifat dan kepribadian menjadi aneh, ataupun badan menjadi rusak karena sakit-sakitan akibat menahan segala tekanan dalam jiwa.

Puji syukur Buddha Maitreya yang telah datang membawakan kabar sukacita kepada kita semua yaitu hadapilah segalanya dengan kasih, kesabaran yang berlandaskan kasih adalah kesabaran yang penuh rasa syukur bagaimanapun buruknya perlakuan orang lain terhadap diriku, aku tetap mensyukurinya. Begitu rasa syukur telah berpancar maka lenyaplah semua ketidakpuasan, ketidakadilan, kebencian, dan sebagainya. Inilah keluhuran dari kesabaran Sang Pengasih, kesabaran yang penuh rasa syukur.

Pada saat orang memfitnah dan mencaci maki saya, mengapa saya harus berterima kasih atau bersyukur kepadanya? Pahamilah bahwa sesungguhnya diri kita penuh dengan kekurangan yang tidak kita sadari. Pada umumnya sebagai seorang pembina yang masih awam saat orang lain memperlakukan kita dengan tidak baik atau membenci kita bahkan memojokkan kita sampai menghadapi jalan buntu saat demikian kita baru disadarkan untuk berpaling dan mengoreksi diri sendiri. Jadi dalam keadaan yang penuh rintangan justru menjadi saat terbaik yang membuat kita mampu menemukan diri sejati. Inilah sebabnya mengapa kita harus bersyukur atas semua perlakuan yang tidak baik itu. Dengan berhasilnya kita berpaling atau memutar satu niat, dari penuh rasa ketidakpuasan menjadi penuh dengan rasa syukur, maka lenyaplah semua kebencian. Kita tetap mampu bersabar dalam semua perlakuan yang tidak baik, inilah kesabaran yang penuh rasa syukur. Di sisi lain, setiap manusia memiliki keterikatan akan ego dan keangkuahan diri yang mendalam. Tembok keakuan seperti ini sungguh tak gampang untuk dihancurkan. Pada saat difitnah dicaci maki, dipermalukan, direndahkan dan sebagainya, saat inilah merupakan saat inilah merupakan saat yang terbaik untuk menghancurkan tembok keakuan . tanpa melalui semua ini, keakuan dan keangkuhan diri tidak mungkin diruntuhkan. Dari hal ini kita dapat memahami bahwa ketika orang memperlakukan saya dengan tidak baik, sesungguhnya pada saat itu dia sedang mempersembahkan mustika untukku, sedang membentuk pribadiku, sedang melatihku untuk mewujudkan keindahan nuraniku, maka sudah selayaknya saya mensyukuri semua berkah ini. Kalaulah semua orang selalu memujiku, mengikuti kehendakku, menerima pendapatku, maka akan membuat keakuan dan kengkuhan diri menjadi semakin tinggi bahkan membuat kita lupa diri hingga terpuruk tiada sadar dalam buaian kesesatan diri.

Sadar untuk bersyukur merupakan perwujudan kasih nurani. Tanpa landasan kasih tak mungkin ada syukur. Tanpa syukur nurani tak bisa mencapai kesabaran tertinggi. Kesabaran teringgi adalah kesabaran yang tiada tindak kesabaran, tiada konsep bahwa saya sedang menahan diri untuk sabar-bersabar bebas bersabar. Kesabaran yang dikenal umum adalah kesabaran yang menahan diri, seperti kesabaran dalam aksara yang telah dilukiskan di awal. Dengan kesabaran demikian akan membuat kita selalu merasa diri telah dirugikan dan timbul keinginan untuk melampiaskan marah atau menuangkan kepahitan ini kepada orang lain. Dalam pandangan kita. Hanya diri sendirilah yang paling benar, sedangkan orang lain tidak berhati nurani, begitu tega memperlakukan saya dengan cara yang menyakitkan. Semua ini bukanlah kesabaran Sang Pengasih.

Hyang Buddha Maitreya menganugerahkan teknik maha metta lugu polos dan Dharma hati dipukul tak melawan dimarah tak membalas kepada kita. Mengajarkan kita untuk selalu memenuhi jiwa dengan kasih. Jika dalam jiwakita penuh kasih, maka pada saat menghadapi berbagai hinaan, kita akan mengatasinya dengan rasa sabar yang penuh syukur. Kesabaran seperti ini bukanlah kesabaran yang terpaksa, melainkan semua perlakuan yang tak baik telah dinetralisir dengan kasih dan ditransformasi menjadi mustika dengan rasa syukur. Insafi dan amalkanlah Dharma Hati Ajita Buddha Maitreya ini.

Yang dimaksud dengan menetralisir semua perlakuan tidak baik dengan cinta kasih di sini bukanlah berarti tindakan menghibur diri, melainkan sungguh-sungguh sebuah kerelaan dan kesadaran nurani, untuk mensyukuri semua rintangan yang datang menggoda. Mengapa kita harus mensyukuri semua perlakuan yang tak baik ini? Karena semua ini merupakan obat mujarab bagi penyakit nurani kita. Orang yang menghina, memfitnah, mencaci maki dan menjatuhkan saya adalah dokter yang datang mengobati penyakit nuraniku. Mereka telah diatur dengan sempurna untuk khusus datang menghina, memfitnah, mencaci maki, menjatuhkan sifat buruk, kesesatan, keangkuhan dan keakuan dalam diriku. Sudah laksaan masa penyakit nurani ini kuderita, dalam diri penuh iri, benci, dendam serakah dan sebagainya, bagaimana menyembuhkan penyakit nurani yang sangat parah dan komplek ini? tiada cara lain selain dengan tetap menghadapi semua perlakuan yang tak baik itu, untuk kemudian berjuang menetralisirnya. Inilah teknik dengan racun melenyapkan racun, dengan sakit mengobati sakit dengan derita mengakhir derita, hingga mencapaisengsara membawa nikmat, yaitu dengan akhir kecemerlangan nurani abadi. Insafilah bahwa di dunia ini tak ada pil ajaib yang bisa menyembuhkan penyakit nurani. Hanya dengan terus menghadapi banyak masalah dan perlakuan yang menyakitkan untuk kemudian kita bergelut dan berjuang secara nyata dalam jiwa sendiri barulah dapat menyembuhkan penyakit nurani hingga tuntas.

Selanjutnya mari kita simak kisah berikut ini. Pada zaman dahulu, hiduplah seorang bhiksu yang sangat terkenal dan dihormati orang banyak. Pada suatu ketika terjadi sebuah peristiwa yang menimpa sang bhiksu. Ada seorang perempuan yang mengandung di luar nikah, dan teman prianya itu tidak bertanggung jawab dan melarikan diri. Dalam keadaan demikian, perempuan yang kebingungan ini melemparkan aib kepada sang bhiksu. Kemudian orang tua dari perempuan tersebut pun membawa massa untuk menyerbu kuil, tanpa basa-basi lagi langsung memukul, mencaci maki dan memaksa sang bhiksu untuk bertanggung jawab kepada anaknya. Sang bhiksu menerima semua ini dengan tenang tanpa pembelaan diri sedikitpun kemudian sang bhiksu bersama perempuan tersebut diusir dari kampung halamannya. Sang bhiksu menyadari, apabila dia tidak menerima penghinaan ini, maka gadis dan janinnya tidak akan selamat. Dengan kasih inilah, dalam kesadarannya sang bhiksu menerima dan menetralisir semua penghinaan atas dirinya. Dengan penuh kesabaran tanpa keluhan, Sang bhiksu menghidupi perempuan tersebut hingga bayi yang dikandungnya dilahirkan dengan selamat. Setiap hari sang bhiksu mengemis demi mempertahankan hidupnya bersama perempuan tersebut dan bayinya.

Beberapa tahun kemudian. Pria yang seharusnya bertanggung jawab namun melarikan diri itu pun sadar. Kemudian pria tersebut memberanikan diri untuk datang menemui pihak perempuan untuk mengaku, memohon pengampunan, dan berjanji untuk menikahinya. Kedua orang tua gadis ini sangat terkejut dan merasa sangat bersalah mereka segera mengutus orang untuk mencari sang bhiksu. Akhirnya sang bhiksu dan perempuan beserta bayinya pun berhasil ditemukan. Dengan tenang sang bhiksu menyerahkan kembali ibu dan bayinya pada keluarga mereka. Sungguh mulia sang bhiksu yang mampu menerima fitnahan dan semua pukulan dengan tenang dan tiada kebencian. Semua ini mampu dilakukan karena ada kasih dalam jiwanya. Ia rela berkorban demi keselamatan orang lain. Inilah kesabaran sang pengasih. Bagi seorang pengasih, suka duka pribadi telah dinomorduakan, panggilan kasihlah yang berada di atas segalanya.

Kini Buddha Maitreya membimbing kita untuk memiliki pribadi Maha Kasih dan lugu polos. Inilah pribadi yang paling sesuai untuk manusia akhir zaman. Hanya dengan kasih, kita baru mampu menghadapi dan menetralisir semua hinaan dengan baik. Hanya dengan kasih kita bisa mentransformasi semua rintangan menjadi mustika yang tiada tara. Bagi sang pengasih, semua racun perlakuan yang tidak baik telah berubah menjadi ramuan obat mujarab bagi kesembuhan jiwa abadi. Dengan inilah sang pengasih menyelamatkan diri dan orang lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here