Sebuah Alasan Untuk Tulus

0
900
ketulusan
ketulusan

Tulus, sebuah kata yang sederhana tetapi sering kali terlalu sulit untuk diterjemahkan ke dalam tindakan nyata. Berbicara tentang ketulusan, tentunya bermuara kepada pertanyaan yang patut dijawab dengan sejujur-jujurnya. Sudah tuluskah kita beriman kepada LaoMu selama ini? Berapa kali kita datang ke vihara untuk bersujud dan berbakti puja? Seringkah kita mengingat LaoMu di setiap momen yang dimiliki? Seberapa besar keimanan kita kepada LaoMu, Buddha Maitreya dan para Buddha-Bodhisatva?

Berapa sering kita mangkir ke vihara untuk berbakti puja atau mengikuti kelas Dharma? Adakah kita berkontak hati dengan Tuhan setiap saat? Apakah kita sekarang malah hanya menjadi umat ‘Che it Cap Goh’ alias hanya datang ke vihara pada Che It Cap Goh atau perayaan Hari Suci Buddha-Bodhisatva saja? Hanya datang pada perayaan ulang tahun vihara, acara, atau event-event tertentu yang special?

Kita selalu punya 1001 alasan untuk tidak datang ke vihara. Tetapi kita tak pernah punya alasan untuk menolak ajakan ke mall, plaza, bioskop, atau tempat-tempat hang out lainnya yang mengasyikan menurut kita. Kita lebih suka di mall menghabiskan waktu, berhura-hura, shopping membeli barang yang kadang tidak perlu, berburu produk diskon, atau sekedar ‘window shopping’ tanpa membeli apa-apa. Yang penting bisa ngumpul sama keluarga, teman atau sekedar menghabiskan waktu sendiri demi alasan sebuah privasi. Hanya alasan capek, sibuk, ada kepentingan yang tidak bisa ditunda dan segudang alasan lainnya ketika kita ditawarkan kesempatan untuk datang ke vihara. Atau kita lebih suka memilih bersantai di rumah, tidur-tiduran, menghabiskan waktu di depan computer atau laptop untuk sekedar online, surfing internet, chatting, main game, fb, twitter, dan sebagainya.

Mungkin dulunya kita adalah umat yang tulus ke vihara. Bahkan kita bisa mengikuti kebaktian setiap hari. Tetapi ketika memasuki fase berumah-tangga, punya anak atau mulai bekerja dan bisnis mulai maju, kita pun mulai jarang datang ke vihara. Jangankan ke vihara, terkadang di rumah saja pun tidak ada waktu untuk sekedar bersujud untuk menciptakan sebuah momen pribadi untuk berkontak hati kepada Tuhan dan Para Buddha. Akhirnya kita menjadi umat ‘Che It Cap Goh’. Kemana ketulusan yang hadir di hari-hari kita sebelumnya? Benarkah dulu kita benar-benar tulus atau sekedar ikut-ikutan sehingga sekarang banyak alasan untuk tidak datang ke vihara?

Sibuk tidak harus membuat kita lupa kepada Tuhan. Rutinitas yang padat sehari-hari tidak perlu sampai membuat kita tidak bisa datang ke vihara. Waktu adalah milik kita selagi nafas kehidupan masih dipercayakan Tuhan kepada kita. Mengapa begitu susah mengatur waktu sampai-sampai tak mampu lagi untuk sekedar bertandang ke vihara, ‘Rumah Tuhan’ yang mulia? Waktu itu milik kita. Kitalah yang seharusnya mengatur waktu, bukan sebaliknya waktu yang mengatur kita sehingga kita menjadi sangat sibuk dan tidak ada waktu ke vihara. Waktu adalah milik kita, jika kita sebenarnya selalu ada waktu untuk bisa datang ke vihara untuk berbakti puja. Dan hanya ada satu alasan bagi kita untuk tetap tulus yaitu untuk membalas segala kebesaran rahmat dan karunia yang telah diberkahkan LaoMu untuk kita, anak-anakNya yang terkasih.

Kalau kita punya begitu banyak alasan untuk kesenangan pribadi, rasanya tidak ada alasan apapun untuk tidak tulus beriman kepada Tuhan. Ketulusan memang tidak bisa dinilai dari seberapa sering menjejakkan kaki ke vihara atau seberapa banyak melakukan tugas–tugas Ketuhanan, melainkan seberapa tulus dan sejati hati atau keimanan kita kepada Tuhan. Namun kedatangan kita ke vihara dan kemauan bertatap muka sekaligus berkontak hati kepada Tuhan adalah langkah awal untuk memupuk ketulusan dan keimanan kepada-Nya. Itulah wujud atau bukti ketulusan untuk berkorban waktu dan kepentingan pribadi demi datang kevihara bersujud dan berbaktipuja kepada Tuhan beserta para Buddha-Bodhisatva.

Meski terkadang rutinitas kesibukan begitu melelahkan fisik dan kebosanan sering melanda, itu bukan alasan untuk tidak tulus beriman kepada Tuhan. Sebab Tuhan tidak pernah bosan menunjukkan kasih-Nya yang sejati kepada kita, anak-anak-Nya, terkadang bahkan melukai hati-Nya dengan segala kesesatan dan kekhilafan yang dilakukan, namun Tuhan tidak pernah berhenti mengasihi kita. Bahkan dengan kasih-Nya yang luar biasa, Tuhan senantiasa membukakan pintu pemakluman dan pengampunan tiada henti untuk kita.

Ada orang yang ketika mengalami cobaan semakin tulus beriman kepada Tuhan. Ketika cobaan berlalu ia pun lupa dengan ketulusannya. Sementara ada orang yang ketika hidupnya tenang tanpa cobaan yang berarti, ia bisa bersikap sangat tulus. Ketika cobaan datang mulailah ia menyalahkan langit dan bumi, bahkan berpaling dari Tuhan. Haruskan kita menjadi orang yang lupa budi seperti itu? Pantaskah kita disebut anak Tuhan yang berbakti sementara sama sekali tidak ada Tuhan di hati kita?

Ketika ketulusan yang dimiliki kepada Tuhan mulai berkurang, pertanyakanlah kepada diri sendiri pernahkah Tuhan melupakan kita? Bukankah Tuhan tidak pernah berhenti memberkati dan melindungi kita meski selalu diacuhkan bahkan di lupakan? Ketika kita mulai melupakan Tuhan, ingatlah bagaimana kita mengasihi orang tua kita, anak-anak kita, dan keluarga kita. Pantaskah kita lupa kepada Tuhan yang telah memberkahi hidup dan kehidupan ini kepada kita? Kalau kita bisa mengasihi keluarga kita lalu mengapa kita tidak bisa mengasihi Tuhan yang justru paling banyak memberi kepada kita bahkan percikan suci roh-Nya juga berada di dalam diri kita?

Tuhan telah memberi terlalu banyak untuk kita. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak tulus beriman kepada-Nya. Bukan berarti Tuhan menuntut kita untuk membalas segala pemberian-Nya. Hanya Tuhan yang tahu betul siapa anak-anak-Nya yang tulus beriman. Ketulusan bukan berarti harus 24 jam berada di vihara tanpa mengikutsertakan hati. Melainkan selalu ada Tuhan di hati kita dimanapun kita berada atau dengan kata lain kita selalu mengingat sekaligus memuliakan Tuhan dimanapun kita berada.

Dengan mengatakan “Biarlah hanya Tuhan yang tahu seberapa besar ketulusan kita” bukan berarti kita sama sekali tidak mau lagi menunjukkan ketulusan kepada-Nya dengan datang ke vihara. Seimbang dalam duniawi dan ilahi adalah hal yang paling bijak untuk dilakukan.

sumber : majalah maitreya edisi 2011

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here