Mengenang Maha Pandita Kusuma Dewa

0
4739

Sisi Kehidupan Beliau
Maha pandita lahir pada tahun 1935 tepatnya tanggal 5 bulan 1 imlek di Pemangkat, sekitar 32 km dari kota Singkawang propinsi Kalimantan barat. Beliau lahir dalam keluarga hakka dengan nama Lie Fen Hin, sebagai anak ke 6 dari 13 bersaudara. Ayah beliau bernama Lie Jin Liuk dan ibunya bernama Cen Nyuk Moi. Dikarenakan usaha dan perjuangan beliau dalam pengembangan wadah ketuhanan, beliau dianugerahi nama kehormatan Maha Pandita Kusuma Dewa. Semasa muda beliau dikenal memiliki moralitas yang tinggi, berbakti kepada orang tua, tenang, tidak banyak bicara dan humoris. Sikapnya yang baik terhadap sesama dan selalu menghormati orang lain menjadi teladan sebagai seorang pemimpin yang baik.

Bertemu Jalan Terang
Semua bermula dari kebesaran kasih Hao Ci Da Di menitahkan Yang Mulia Maha Sesepuh Zhou (Hu Ci Di Jun) menyebarkan jalan ketuhanan ke seantero dunia. Di awal tahun 1979 MS. Zhou menitahkan para pandita Taiwan diantaranya pandita Lim Min Shun untuk merintis wadah ketuhanan ke Singapura. Di Singapura pandita Lim Min Shun bertemu dan mengajak Lim Si Ho (almarhum pandita singapura) memohon jalan ketuhanan. Selanjutnya pandita Lim Si Ho membawa rombongan pandita Taiwan ke Jakarta dan mengenalkan kepada mitra usahanya, Hie Muk Lim. Setelah mendapat penjelasan dari pandita, Hie Muk Lim sekeluarga memohon jalan ketuhanan dengan ritual pendhiksaan yang dilakukan di Vihara sementara di rumahnya. Saat itu Hie Muk Lim memberi info kepada rombongan pandita Taiwan, bahwa di Singkawang tanah kelahirannya banyak orang Hakka yang percaya pada Taoisme dan Konghucu. Setelah mendengar cerita tersebut, lalu Hie Muk Lim membawa rombongan pandita Taiwan menuju kota Singkawang. Di kota Singkawang tepatnya tanggal 16 bulan 6 imlek tahun 1979, pertama kali upacara pendhiksaan vihara dilakukan di rumah toko mas murni milik Jong Hon Jung; jalan Hasan Saad no.4 kota Singkawang. Pada saat itu umat yang mendapat ketuhanan berjumlah 36 orang. Diantara 36 orang tersebut, Maha Pandita Kusuma Dewa ikut dalam rombongan yang memohon jalan ketuhanan. Pendiksaan dilakukan oleh pandita Lian Choi, dengan Hie Mui Na sebagai guru pengajak dan Cong Chin Siu sebagai guru penanggung.

Atas bimbingan kasih MS. Zhou, awal tahun 1980 pembangunan Vihara Dharma Buddha Maitreya yang beralamat di jalan S.M.Tsjafioeddin no.32 Singkawang dimulai. Setelah melalui proses pembangunan, akhirnya pada tanggal 23 September 1980 atau tanggal 15 bulan 8 imlek; yang bertepatan dengan hari parinibbana Bapak Guru Agung dan festival kue bulan; vihara Dharma Buddha Maitreya diresmikan. Vihara ini didirikan MS. Zhou menggunakan dana dari Taiwan. Setelah vihara didirikan, MS. Zhou sering mengutus pandita dan abdi vihara Taiwan datang ke kota Singkawang untuk membimbing dan melakukan pendhiksaan. Banyak umat yang mendapatkan ketuhanan pada saat itu. Setelah mendapatkan ketuhanan, maha pandita Kusuma Dewa aktif melakukan kebaktian, dan 3 bulan kemudian memutuskan untuk bervegetarian. Di antara temannya, beliaulah yang paling beriman serta memiliki kesadaran kuat akan keluhuran membina dan melaksanakan ketuhanan.

Melangkah Maju Demi Ketuhanan
Pada saat itu beberapa hambatan/rintangan harus dihadapi dalam perjalanan penyebar luasan jalan ketuhanan di kota Singkawang. Salah satu hambatan yang terjadi yaitu adanya sekelompok orang yang melarang abdi vihara dan pandita Taiwan dalam melaksanakan ketuhanan di kota Singkawang pada tahun 1982. Untuk mengatasi hal tersebut, maha pandita Kusuma Dewa dan maha pandita Kok Kim Chiung dipilih dan dipanggil ke Singapura untuk menerima firman kepanditaan dari Hao Ci Da Di. Pada tahun 1982 tersebut, maha pandita Kusuma Dewa dan maha pandita Kok Kim Chiung merupakan umat pertama dan kedua yang berikrar vegetarian di kota Singkawang.

Mulai saat itu pandita dari Taiwan jarang ke kota Singkawang melakukan bimbingan dan pendhiksaan. Perkembangan wadah ketuhanan diserahkan kepada usaha dan perjuangan pandita setempat. Pada awal pengembangan jalan ketuhanan, maha pandita Kusuma Dewa aktif melaksanakan ketuhanan dibantu oleh maha pandita Kok Kim Chiung. Pada saat itu belum ada kader ketuhanan, thancu, foyen, abdi vihara, pelaksana vihara, ataupun umat yang aktif. Tidak tersedianya dana yang cukup dalam melaksanakan ketuhanan juga menjadi tantangan dalam pengembangan ketuhanan. Walaupun menghadapi kesulitan, rintangan dan penderitaan; pandita Kusuma Dewa terus melangkah maju ke depan mengembangkan ketuhanan. Semangat dan kesetiaan demi misi ketuhanan beliau tidak pernah berubah sampai nafas terakhir.

Dalam perjalanan pengembangan jalan ketuhanan, beliau merintis beberapa vihara diantaranya yaitu vihara Dharma Buddha Maitreya (VDBM) Pangkalan Makmur (1983), VDBM Pemangkat (1984), VDBM Jawai (1988), VDBM Pontianak (1990), VDBM Batu Ampar (1990), VDBM Teluk Suak (1990), VDBM Sungai Duri (1994), dan VDBM Selakau (1996). Beliau pernah dituduh dan difitnah membangun vihara demi kepentingan sendiri dan mencari uang, namun beliau selalu tenang dan sabar menghadapinya. Pada tahun 1991 mulai banyak bermunculan kader-kader ketuhanan; utamanya para Buddha siswa angkatan 6 dari institut Rahmat Kasih Tuhan Thien En, Taiwan yang berperan penting dalam membantu dan mendukung misi ketuhanan. Demi mencetak kader ketuhanan, banyak aktivis vihara yang diutus ke Taiwan untuk mengikuti kelas Buddha siswa.

Beliau sangat disiplin waktu dalam melaksanakan tugas pendhiksaan, tidak pernah izin dan malas, senantiasa bersemangat dalam misi penyelamatan umat manusia. Asalkan ada orang yang ingin mendapat ketuhanan, maka beliau akan siap melaksanakan upacara pendhiksaan. Suatu hari beliau pernah melaksanakan pendhiksaan dari pagi sampai sore dan dilanjutkan dari sore hingga malam. Membawa motor ataupun naik mobil penumpang seorang diri sering dilakukan beliau dalam melaksanakan misi penyelamatan umat manusia. Perasaan lelah ataupun panas teriknya matahari tidak menghentikan langkah kaki beliau dalam melaksanakan tugas ketuhanan.

Kembali Bersatu dengan LaoMu
Semasa hidupnya maha pandita Kusuma Dewa telah mewarnai hidupnya dengan karya-karya agung. Beliau memimpin wadah ketuhanan Wenhua Indonesia dan bertugas sebagai ketua Mapanbumi kota Singkawang, kabupaten Sambas serta Bengkayang. Berkat jasa beliau yang memimpin wadah ketuhanan selama 31 tahun (1982-2013), telah berdiri 14 vihara dan 46 cetiya di kota Singkawang dan sekitarnya.

Pada tanggal tanggal 21 Juli 2013 pukul 04.05 wib di rumah sakit Vincensius Singkawang, beliau telah kembali bersatu dengan Lao Mu sang kebenaran tertinggi dalam terang cahaya tuntutan kasih Buddha Maitreya dalam usia 78 tahun. Beliau dimakamkan pada hari sabtu tanggal 27 Juli 2013 pukul 08.30 wib.

Hujan deras mengawali upacara pemakaman beliau; yang menandakan kasih dan perhatian beliau senantiasa bersama kita. Maha Sesepuh Zhang menyampaikan “Beliau (maha pandita) sangat sungkan, khawatir kita kepanasan mengantarnya sampai ke pemakaman”. Upacara penghormatan terakhir dilakukan oleh masing-masing perwakilan vihara secara bergantian yang dipimpin langsung oleh maha sesepuh Zhang.

Roh suci beliau akan senantiasa memperhatikan dan membantu misi ketuhanan. Beliau telah mencapai jiwa suci sempurna di sisi Tuhan, kembali ke akar pokok sejati, berpulang ke sumber agung, bersatu dengan LaoMu dalam keabadian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here