Mengasihi Bukan Menyakiti

0
701
Mengasihi Bukan Menyakiti

Atas nama cinta, seorang isteri terpaksa menggugat cerai suaminya yang menurutnya terlalu otoriter menguasai kehidupannya. Sementara anak-anaknya malah menjadi korban perceraian orangtuanya yang berbuntut pada trauma dan ‘broken home’. Atas nama cinta, seorang kekasih tega merenggut nyawa belahan jiwanya hanya demi janji sehidup semati. Dan atas nama cinta pula, orangtua tega memutuskan jalinan kasih anaknya dengan seseorang yang tak pernah direstuinya. Atas nama cintakah itu ketika orangtua berusaha memaksakan kehendak dan pandangannya sementara semua itu justru bertolak belakang dengan masalah prinsip anaknya? Sebegitu jeleknyakah mengasihi itu sehingga justru malah menyakiti pada akhirnya?

Sebagai orangtua memang selalu berusaha memberi yang terbaik untuk anak-anaknya. Tetapi ketika semua itu berbenturan dengan masalah prinsip atau kepercayaan maka justru akan melukai perasaan si anak. Apalagi ketika ada unsur paksaan untuk memaksakan kehendak atau pandangan pribadi. Pada akhirnya maksud untuk mengasihi malah jadi menyakiti karena si anak merasa sama sekali tidak dihargai. Hal demikian bisa saja terjadi di dalam hubungan antara suami-isteri, sesama sahabat atau rekan kerja, kolega dan sebagainya. Rasa sayang yang diungkapkan dengan cara yang keliru dan ego untuk memaksakan ide ataupun pandangan pribadi hanya akan melukai orang yang dikasihi.

Sebagai manusia awam yang masih diliputi ego dan keangkuhan, seringkali kita salah kaprah akan arti mengasihi. Menurut kita mungkin apa yang kita lakukan baik adanya dan sepatutnya diterima atau setidaknya dihargai. Tetapi apa yang kita pikir baik belum tentu baik menurut kacamata yang lain. Tujuan yang baik tetapi dengan cara yang keliru dan jelek apalagi ketika ada unsur paksaan di dalamnya, maka hasilnya pasti tidak akan sesuai dengan yang diharapkan. Mungkin tujuannya mengasihi tetapi buntut-buntutnya malah menyakiti, lalu apa artinya mengasihi?

Mengasihi yang sesungguhnya tak akan pernah menyakiti. Ketika kasih yang diberikan semata bersumber dari kemurnian hati, maka semua itu tak akan menyakitkan. Sebaliknya apabila mengasihi masih dibumbui dengan keegoan dan keinginan untuk memaksakan kehendak pribadi, maka kasih yang diberikan sudah tidak murni lagi sehingga ujung-ujungnya hanya akan menyakiti. Mungkin kita perlu sedikit belajar dari alam bagaimana caranya mengasihi. Alam memberi dan berdedikasi tanpa pamrih. Mengasihi semua tanpa perbedaan dan tuntutan. Pernahkah kita mengasihi tanpa keluh-kesah dan tuntutan?

Mampu mengasihi sesama adalah ungkapan jiwa yang agung dan sepatutnya diwujudkan dengan segala ketulusan hati. Adanya unsur paksaan di dalam sebentuk kasih yang diberikan tak akan pernah mendatangkan kenyamanan dan kebaikan kecuali luka hati dan penderitaan. Sebaliknya berbesar hati menerima dan memaafkan kendati apa yang diberikan kepada kita tidak sepenuh hati dan mendatangkan kebaikan, maka hawa keharmonisan akan datang melingkupi. Tegasnya, belajarlah mengasihi tanpa menyakiti karena semua itu akan mendatangkan kebaikan dan kesempurnaan. Tak lupa belajar pula untuk memaafkan ketika kasih yang diterima tidak begitu sesuai dengan harapan karena memaafkan adalah salah satu bentuk dari mengasihi. Sebagaimana Tuhan yang tak pernah berhenti mengasihi kita, maka hendaknya kita mampu belajar mengasihi sesama tanpa menyakiti. Mengasihi memang bukan untuk menyakiti karena mengasihi adalah wujud dari keagungan jiwa yang tak pernah mengenal arti menyakiti.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here