Membangun Keindahan Alam dimulai dari Keindahan Kodrati Manusia (3)

0
1454
Membangun keindahan Alam dimulai dari keindahan Kodrati Manusia (3)
Membangun keindahan Alam dimulai dari keindahan Kodrati Manusia (3)

Dualisme telah menjadi sumber penyebab duka sekaligus halangan yang terbesar dalam hidup manusia. Dari dulu hingga kini, noda hitam tanpa obat penawar, sekaligus kesalahan yang paling sukar ditebus dalam kehidupan manusia adalah bahwa manusia menjadikan kondisi dualis ini sebagai segala-galanya dalam hidup mereka! Buddha Maitreya mengajarkan bahwa semua dualisme dunia hanyalah suatu proses dalam menjalani kehidupan, sama sekali bukan tujuan dari kehidupan itu sendiri. Sesungguhnya dualisme bukanlah hal yang utama, melainkan hanyalah kondisi pendukung dalam proses memwujudkan cahaya kehidupan. Dualisme dunia hanyalah pernak-pernik kehidupan, bukan intisari dari hidup itu sendiri. Jika kita terjerumus dalam perbedaan hina-mulia, mendapatkan-kehilangan, untung-rugi, keberuntungan-kemalangan, miskin-kaya, dan dualisme lainnya, maka kita akan hidup dalam penderitaan, menghadapi nasib hidup yang tragis, hidup kita akan penuh dengan pertikaian serta perebutan kepentingan.

Harkat dan martabat yang paling mulia dalam diri seorang manusia terletak pada kecemerlangan Nurani. Yaitu saat manusia mampu mewujudkan panggilan nurani, memancarkan keindahan kodrati dirinya untuk menguntungkan dan mendatangkan kebahagian bagi seluruh dunia, bagi seluruh umat manusia, untuk tanah air tercinta, dan bagi lingkungan sekitarnya. Sebaliknya, nilai hidup menjadi hina dan nista apabila hati nurani tidak berpancar cemerlang. Segala prilaku kita dapat membahayakan keselamatan dunia, merusak stabilitas negara, mendatangkan malapetaka dan kerusakan pada lingkungan sekitar, dan melukai sesama umat manusia. Terlebih, apabila kita tidak memancarkan kecemerlangan Nurani, tak mampu menampilkan keindahan kodrati sebagai seorang manusia, namun senantiasa dimuliakan dan mendapatkan pujian, ini adalah suatu kekotoran terbesar dalam kehidupan manusia.
Makna sejati dari ‘memiliki’ adalah jika kita mampu memancarkan kecemerlangan nurani, menjadikan nurani sebagai penguasa diri, mewujudkan keindahan kodrati seorang manusia. Sebaliknya ‘kehilangan’ terbesar bagi seorang manusia adalah saat ia gagal memancarkan kecemerlangan nurani, tidak mewujudkan keindahan kodratinya.
Jika kita tidak memancarkan kecemerlangan nurani, tak mampu menjadikan nurani sebagai tuan atas diri sendiri, sekalipun memiliki kekuasaan yang luas, jabatan dan kedudukan yang tinggi, kemakmuran dan kekayaan yang berlimpah, kita telah kehilangan segalanya. Kehidupan berjalan hampa tanpa makna. Hilanglah kemuliaan hidup.

Berkah dan keberuntungan sejati terletak pada kemampuan seseorang untuk menjadikan nurani sebagai penguasa dirinya, pada kemampuan untuk mewujudkan keindahan kodratinya sebagai seorang manusia. Sebaliknya malapetaka dan kemalangan senantiasa mewarnai kehidupan manusia karena kesesatan diri sendiri, karena tidak menjadikan nurani sebagai penguasa diri, sehingga keindahan kodrati sebagai seorang manusia pun tak berpancar. Karena itu, walau kita mampu menguasai seluruh dunia, menjadi orang terkaya di seluruh dunia, semua itu tetaplah merupakan sebuah kemalangan dan bencana.

Kemuliaan hidup yang sesungguhnya adalah jika kita mampu menjadikan nurani sebagai tuan atas diri, mampu mewujudkan keindahan kodrati sebagai seorang manusia. Sebaliknya hidup menjadi miskin dan hina jika kita tidak berdaya menjadikan nurani sebagai tuan atas diri, jika tidak mewujudkan keindahan kodrati sebagai seorang manusia. Namun kini manusia menggunakan segala cara demi mengejar popularitas dan kekayaan, tanpa peduli akan kecemerlangan nuraninya. Di sinilah letak kemiskinan hati dan sempitnya pikiran manusia.

Seorang manusia yang dalam hidupnya senantiasa mewujudkan kecemerlangan nurani, menjadikan nurani sebagai penguasa hidupnya, dan mewujudkan keindahan kodratinya sebagai seorang manusia, dialah manusia sejati, dialah sang pemenang sejati, dialah orang kuat dan sukses yang sesungguhnya. Sebaliknya, orang yang gagal, kalah, yang disebut sebagai pecundang yang sesungguhnya adalah dia yang tak mau memancarkan kecemerlangan nurani, adalah dia yang tak mampu menjadikan nurani sebagai tuan atas dirinya, adalah dia yang kehilangan keindahannya sebagai seorang manusia. Sekalipun memiliki tingkat pendidikan dan pengetahuan yang tinggi, memiliki banyak kemampuan, pintar dan berbakat, tanpa kecemerlangan nurani ia tak berdaya atas diri sendiri. Keindahan kodratinya sebagai seorang manusia tak berpancar, sehingga dipandang dari sisi nuraniah, ia tetaplah menjadi orang yang bodoh.

Keindahan langit-bumi dan laksa makhluk bertahan selamanya, laksa masa tetap demikian adanya, abadi dan tak pernah berubah. Bagaimana dengan keindahan seorang manusia? Benarkah keindahan hanya terletak pada kecantikan dan ketampanan wajah-wajah belia? Berapa lama keindahan semacam ini mampu bertahan? 10 atau 20 tahun? Untuk keindahan semacam ini, mampu mempertahankannya hingga 20 tahun pun sudah luar biasa. Tetapi adalah suatu kesalahan yang besar apabila kita menilai suatu keindahan hanya dari raut wajah dan wujud rupa, karena keindahan semacam ini bersifat semu, sementara, dan tidak bertahan lama. Siapa yang memancarkan keindahan kodrati sebagai seorang manusia, dialah yang mampu melampaui batas ruang dan waktu. Seperti halnya para Nabi dan Orang Suci masa lalu, walau kini Mereka tidak lagi hidup di dunia, namun orang-orang masih tetap memuja dan memuliakan Mereka.

Sesungguhnya kebutuhan seorang manusia dalam kehidupan ini tidaklah banyak. Ia hanya perlu sebuah ranjang untuk tidur, pakaian untuk menutup badan, makanan untuk mengenyangkan perut, dan hanya bisa duduk pada sebuah kursi. Walau demikian manusia tetap berusaha habis-habisan dalam segenap hidupnya, bersaing dan berkompetisi, berhiruk-pikuk mengumbar nafsu, mengejar segala kenikmatan mulut, mengenakan pakaian yang menyolok, tinggal di rumah yang mewah, serta mengendarai mobil berkelas. Mereka berprinsip, semakin banyak yang dimiliki, itu semakin baik.
Sesungguhnya pangan, sandang, papan, dan transportasi hanyalah suatu sarana pendukung dalam proses menjalani kehidupan, bukan segala-galanya dan bukan tujuan hidup kita. Seseorang yang mampu mewujudkan keindahan kodratinya sebagai seorang manusia, dalam hatinya sangat jelas sekali bahwa pangan, sandang, papan, dan transportasi pada dasarnya bukanlah hal yang utama. Yang terpenting dalam kehidupan seorang manusia adalah apa misi dibalik semua kebutuhan tersebut?

Apabila kita mengisi hidup ini hanya untuk mengumbar nafsu, mengejar segala kenikmatan dan kepuasan dibalik kebutuhan akan pangan, sandang, papan, dan transportasi, maka kehidupan ini tidak mendatangkan manfaat, bahkan tak bernilai! Dalam satu kehidupan ini, janganlah menghabiskan semangat, waktu, pikiran, dan tenaga yang demikian besar hanya untuk mengejar kenikmatan yang fana. Bukankah lebih baik—bahkan sudah seharusnya—semua itu digunakan untuk mendatangkan kebahagiaan bagi umat manusia, untuk mendatangkan keuntungan dan berkah bagi orang-orang di sekitar kita. Dan setahap lebih maju lagi, yaitu memanfaatkan segalanya untuk melayani dan mendatangkan kebahagiaan bagi masyarakat, negara, dunia, dan juga semesta.

Keindahan kodrati manusia, keindahan langit-bumi, dan keindahan semua makhluk adalah sejalan dan saling mendukung. Keindahan ini membuat semua orang tersentuh, merasa hangat, tenang, lega, dan gembira, sungguh tak terlupakan! Membuat orang merasa senang dan akrab, sebuah pemandangan indah yang meneduhkan jiwa, saling menghormati dan mengasihi dalam kehidupan, penuh kebahagiaan, lepas dari segala beban dan keresahan.
Bagai berbalut angin musim semi, tenggelam di tengah lautan kasih sayang. Jiwa dipenuhi kesegaran, seluruh tubuh terasa nyaman, senyuman syukur pun merekah. Betapa membuat kita merasa hangat, nyaman, damai, harmonis, penuh persaudaraan, dan diberkahi.

Manusia, langit, bumi, dan makhluk hidup memiliki keindahan berimbang yang saling mengisi dan melengkapi, eksis dan hidup berdampingan dalam kemuliaan sepanjang abad. Apabila ketiga keindahan ini terwujud secara utuh dan sempurna, maka Ikrar Agung Buddha Maitreya—Bumi Suci Semesta yang Sejati, Indah, dan Bajik pun terwujud!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here