Maha Vihara Sejahtera Maitreya, Buddhist Center yang Akan Diresmikan Menag dan Gubernur

0
9340

Pembangunan Buddhist Center di Jalan DI Panjaitan Samarinda telah rampung, dan akan diresmikan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak pada 7 Maret 2016. Selain dihadiri pejabat pusat dan daerah, peresmian Buddhist Center juga dihadiri para pemuka agama Buddha dari berbagai negara.

MUKHRANSYAH, Samarinda

DI depan Buddhist Center, beberapa pekerja asal Jakarta, Selasa (26/1) lalu, terlihat memasang huruf-huruf berbahan stainless steel (baja tahan karat) setinggi sekitar 1 meter. Mereka menyusun huruf-huruf membentuk kata “Maha Vihara Sejahtera Maitreya”. Huruf-huruf di tengah air mancur kecil itu juga berupa lampu, sehingga kian mempercantik gedung megah tersebut kala malam.

Wakil ketua panitia Pembangunan Buddhist Center, Pandita Hendri Suwito mengatakan, secara keseluruhan Buddhist Center terbesar di Asia Tenggara itu telah selesai dibangun. Saat ini, katanya, tinggal menyempurnakan bagian-bagian yang belum tuntas. Termasuk memasang huruf nama gedung ini tadi. Dia menargetkan akhir Februari 2016, sudah tidak ada pekerjaan lagi.

“Satu-dua minggu sebelum peresmian harus sudah tidak ada aktivitas pekerjaan lagi. Kami ingin fokus pada persiapan peresmian gedung pada 7 Maret nanti,” kata Hendri Suwito, didampingi koordinator Indonesia Vegetarian Society (IVS) cabang Kaltim, Dharmadi Suryawan kepada Kaltim Post, kemarin.

Buddhist Center yang berdiri di lahan 1,3 hektare itu dikerjakan sejak 2008 atau selama delapan tahun. Pada 2010 telah dilakukan topping off oleh Gubernur Awang Faroek Ishak. Biaya pembangunan antara lain dari bantuan Pemprov Kaltim dan dana umat Buddha. Hendri enggan menyebutkan total biaya pembangunan, namun bisa dipastikan mencapai ratusan miliar rupiah.

Biaya pembangunan gedung ini sangat sebanding dengan kualitas. Bangunan seluas 10.600 meter persegi tersebut terlihat megah dan bisa menjadi kebanggaan Kaltim. Seluruh bagian luar bangunan dilapisi keramik. Beberapa bagian bahkan dilapisi batu paras berukir. Untuk mengerjakan beberapa elemen tersebut, panitia pembangunan mendatangkan tenaga dari luar daerah.

“Untuk batu paras berukir pada dinding, kita mendatangkan pekerja Purwakarta. Dia juga mengerjakan relief Buddha dan pesan Buddha di graha lantai 1. Sementara untuk ukiran kisah perjalanan Buddha di depan gedung, kita mendatangkan pekerja dari Bali,” ujar Hendri. Selain itu ada pekerja dari Tulungagung yang memberi ukiran warna emas pada bagian depan bangunan.

Sementara itu, patung-patung Buddha didatangkan dari Taiwan. Tiga pratima setinggi 3,9 meter ditempatkan di lantai satu (Graha Shakyamuni). Pratima tersebut yaitu Buddha Shakyamuni (Buddha Gautama), Bodhisattva Avalokita, dan Boddhisattva Satyakalam. Sedangkan pratima Buddha Maitreya setinggi 5 meter berada di lantai tiga. Pratima Buddha ini masih diselimuti kain, dan akan dibuka saat peresmian.

Selain itu, ada juga pratima Buddha Maitreya memegang bola dunia setinggi 7,2 meter yang menjadi monumen di depan gedung. “Kami menamainya Monumen Budaya Dunia Satu Keluarga,” tukas Hendri. Patung ini dikelilingi empat pratima Maitreya “cilik” yang sedang bermain alat musik. Tepat di bawah monumen itu terdapat kafetaria khusus vegetarian.

Hendri menjelaskan, pendirian monumen tersebut untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa dunia merupakan satu keluarga. “Kami ingin menunjukkan budaya yang saling bekerja sama, saling tenggang rasa, dan saling menghormati. Di bawah monumen juga ada kafetaria untuk semua lapisan masyarakat. Makanan yang disajikan berkualitas dan sehat,” ujarnya.

Buddhist Center terdiri dari tiga bangunan yang saling berhubungan. Bangunan utama terdiri dari tiga lantai. Bangunan di sisi kiri dan kanan terdiri dari lima lantai. Sementara lantai dasar (ground floor) menjadi lahan parkir kendaraan. Untuk menuju masing-masing lantai disiapkan dua lift. Juga ada tangga (termasuk tangga darurat) di bagian depan dan belakang gedung.

Untuk bangunan utama, terdiri dari Graha Sakyamuni seluas 28×20 meter untuk bersembahyang seluruh mazhab umat Buddha. Di vihara ini terdapat tiga pratima Buddha. Di lantai dua berupa ballroom yang bisa menampung lebih 1.000 orang. Sedangkan lantai tiga merupakan altar untuk sembahyang umat Buddha Maitreya yang bisa menampung sekitar 1.000 orang.

Bangunan di sisi kanan dan kiri menjadi fasilitas pelengkap. Di lantai satu ada restoran khusus vegetarian dan minimarket. Lantai berikutnya, ada sekolah yang terdiri dari 10 kelas dan kamar tidur untuk tamu sebanyak 35 ruang. Juga disiapkan dapur umum dan ruang pertemuan untuk tamu. “Kamar-kamar ini nantinya lebih banyak digunakan untuk diklat,” tambah Dharmadi.

Di antara kamar tamu, ada dua ruangan yang berukuran cukup besar. Satu ruang terdiri dari ruang tamu, dua kamar tidur, dapur, dan kamar mandi. Kamar tersebut hanya untuk tamu penting, seperti para pemuka agama Buddha. “Buddhist Center ini yang terbesar di Asia Tenggara, dan akan menjadi rujukan umat Buddha untuk wilayah Indonesia timur,” ujar Hendri.

Di gedung itu juga akan berkantor DPD Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Kaltim, Sekretariat DPD Indonesia Vegetarian Society (IVS) dan Vegan Society of Indonesia (VSI). “Buddhist Center ini juga akan menjadi wahana wisata religi dan wisata budaya. Gedung bisa menjadi bagian silaturahmi umat Buddha kepada seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya.

Saat peresmian nanti, ribuan undangan serta umat Buddha dari berbagai daerah di Indonesia akan memadati lokasi acara. Panitia juga mengundang para pemuka agama Buddha dari berbagai negara. Di antaranya, dari Taiwan, Hong Kong, Jepang, Malaysia, Myanmar, Kamboja, Korea, dan Brasil. “Beberapa tokoh di Indonesia juga kami undang. Di antaranya, Dahlan Iskan (mantan menteri BUMN, Red),” ujar Hendri.

Panitia yang terdiri dari DPP Majelis Pandita Buddha Maitreya (Mapanbumi) dan DPD Mapanbumi Kaltim, saat ini sedang melakukan berbagai persiapan. Termasuk acara hiburan. Di antaranya, senam Kasih Semesta yang dibawakan grup Cahaya Rembulan dari INLA (The International Nature Loving Association). Anggota senam itu adalah para pelajar lintas agama.

Kemudian juga ada tarian dari siswa Sekolah Minggu Suka Cita Maitreya, atraksi musik angklung dan sebagainya. “Juga ada acara Pelangi Nusantara yang menyanyikan lagu-lagu daerah secara medley. Para penyanyinya mengenakan busana berbagai daerah. Kami ingin menunjukkan keberagaman daerah kepada tamu mancanegara,” ujar Dharmadi.

Setelah peresmian, tambah Hendri, Mapanbumi juga menyiapkan pendidikan dan latihan (diklat) untuk para calon biarawan dan biarawati. “Karena menjadi Pusdiklat untuk wilayah Indonesia Timur, kami juga sudah menyusun agenda pendidikan dan latihan setelah acara peresmian nanti. Diklat rencananya digelar selama empat bulan,” ujarnya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here