Kunjungan Maha Sesepuh Wang ke Jakarta

0
4278

Pada tanggal 16 Oktober 2015, Pemimpin Wadah Ketuhanan sedunia, Maha Sesepuh Wang, beserta para Pandita tiba di Jakarta. Kunjungan Maha Sesepuh Wang ke Jakarta kali ini dipenuhi dengan jadwal yang padat. Setibanya di Jakarta, Maha Sesepuh Wang beserta para Pandita sudah disambut oleh umat-umat Jakarta maupun luar kota di Pusdiklat Buddhis Maitreyawira. Setelah bakti puja dan makan malam bersama, Maha Sesepuh Wang memimpin acara Wisuda Sekolah Tinggi Agama Buddha Maitreyawira, yang berlangsung di Pusdiklat Buddhis Maitreyawira.

Keesokan harinya, 17 Oktober 2015, Maha Sesepuh Wang menghadiri acara peresmian dua Fortunate Coffee di Jakarta. Masing-masing berlokasi di Green Mansion Daan Mogot, kemudian di Pantai Indah Kapuk. Kegiatan dilanjutkan dengan bimbingan dharma oleh Maha Sesepuh Wang pada malam harinya. Sebelum bimbingan dharma dimulai, para umat dihibur oleh persembahan beberapa lagu oleh muda-mudi. Kemudian dilanjutkan dengan bimbingan dharma oleh Maha Sesepuh Wang. Pada bimbingan malam tersebut, Maha Sesepuh Wang menekankan pentingnya kita untuk selalu mengikuti jejak langkah dari Wadah Ketuhanan, agar tidak tersisihkan oleh arus perubahan zaman.

Pada hari Minggu, 18 Oktober 2015, kembali dibuka penataran Dharma di Pusdiklat Buddhis Maitreyawira, yang dihadiri oleh ratusan umat dari daerah Jakarta dan sekitarnya. Setelah persembahan tiga buah tembang suci Ketuhanan, sesi pertama kembali diisi oleh Maha Sesepuh Wang, yang melanjutkan pembahasan malam sebelumnya tentang pentingnya berubah mengikuti arus perubahan zaman. Pada kesempatan ini pula, Maha Sesepuh Wang mengumumkan proyek pembangunan Graha Budaya Kasih Alam, dimana dalam graha ini akan dilengkapi dengan pameran budaya dari seluruh Provinsi yang ada di Indonesia, dengan masing-masing Provinsi memiliki hall tersendiri untuk menjelaskan budaya tiap-tiap Provinsi. Maha Sesepuh menjelaskan, dengan pendekatan melalui budaya, akan lebih banyak umat manusia yang bisa menerima dan dengan demikianlah dunia satu keluarga akan terwujud. Oleh karena itu, diharapkan dengan pembangunan graha budaya masing-masing Provinsi dapat semakin membangkitkan semangat dunia satu keluarga ditengah-tengah keaneka-ragaman budaya di Indonesia. Sungguh berkah luar biasa bagi kita, karena graha budaya seperti ini hanya mungkin bisa dibangun di Jakarta, sebagai ibu kota dari negara Indonesia yang penuh dengan keaneka-ragaman budaya.

Setelah istirahat, penataran dilanjutkan dengan bimbingan Dharma oleh Ibu Pandita Lii dari Taiwan. Pada kesempatan ini, Ibu Pandita menjelaskan tentang bagaimana menjadi seorang yang beradab budaya. Yaitu dengan meninggalkan sepuluh kejahatan, memancarkan hati kasih, prilaku kasih, dan senyuman kasih, mencintai alam, dan lainnya. Kemudian dilanjutkan dengan sembahyang siang dan makan siang bersama.

Setelah makan siang, acara dilanjutkan kembali dengan persembahan tiga buah tembang suci Ketuhanan. Sesi berikutnya dibawakan oleh Bapak Pandita Luo dari Taiwan. Dengan semangat, Beliau mengingatkan kembali akan pentingnya kita membina, dan pentingnya kita untuk selalu mengikuti setiap derap langkah dari Wadah Ketuhanan. Pandita juga mengambil kisah Bunda Teresa dan diplomat asal Jepang, Chiune Sugihara, yang mana dengan kebajikan keduanya yang tinggi, akhirnya dilintaskan juga. Sesi terakhir diisi oleh motivasi-motivasi dari para Pandita tentang pembangunan Graha Budaya Kasih Alam, dan para umat diajak untuk bersama-sama menyukseskan proyek pembangunan ini.

Barulah pada pagi hari Senin, 19 Oktober 2015, Maha Sesepuh Wang beserta para Pandita bertolak menuju Palembang, untuk melanjutkan serangkaian aktivitas lainnya. Sungguh kesempatan yang langka, di tengah kesibukan, Maha Sesepuh Wang senantiasa memikirkan kita, umat-umat di Indonesia. Sudah sepatutnya kita bersyukur atas welas asih Maha Sesepuh.

for more pictures, click here

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here