Hidup dengan Bahagia

0
870

Apa yang terlintas di benak kita kala menyaksikan sekumpulan burung yang terbang dengan bebas leluasa serasa tanpa beban? Menyenangkan sekali, bukan? Tiada beban dan bebas leluasa. Apakah kita pernah sebebas dan seleluasa itu? Apa pernah kita hidup tanpa beban dan begitu leluasa menjalaninya? Ringan, leluasa dan tentu saja membuat kita begitu rileks mengarungi samudera kehidupan dengan gembira dan menyenangkan. Pernahkah kita merasakan?

Sayangnya, kebanyakan kita ternyata justru melewatkan begitu banyak momen dalam hidup dengan melilit diri dalam kungkungan derita dan kesedihan yang sesungguhnya kita sendiri yang menciptakannya. Masalah sepele dibesar-besarkan. Tekanan hidup yang sebenarnya kita sendiri yang membuatnya menjadi berat. Cekcok yang semestinya tidak perlu ada. Berbicara terlalu banyak sampai bergosip yang tidak-tidak. Mendengar hal-hal yang tak semestinya didengar. Melihat terlalu subjektif dengan kacamata ego sehingga terus-terusan menghakimi orang lain. Sungguh hidup yang semestinya bisa dijalani dengan bahagia akhirnya menjadi hidup yang begitu berat dan penuh derita.

Sebagai manusia yang penuh keterbatasan, hendaknya kita menyadari bahwa ada hal-hal yang berada di luar jangkauan kemampuan kita. Terlalu memaksa diri membuat kita tak mampu melihat realita dan sisi keindahan dari hidup yang dianugerahkan Tuhan. Asalkan kita mampu melihat dengan kearifan dan ikhlas menerima dengan lapang dada sekaligus menjalani kehidupan dengan kasih, niscaya kita akan selalu melihat keindahan dan kebahagiaan.

Diri sendiri yang menjadi titik penentu atau fokus utama dari segala sesuatu. Kebahagiaan tidak dicari di luar diri tetapi berada di dalam diri. Kita tak bisa bahkan tak boleh menuntut orang lain untuk membahagiakan kita, melainkan kita sendirilah yang harus membahagiakan diri sendiri dan sesama. Kita tidak boleh menyandarkan kebahagiaan kita kepada siapapun dan apapun. Tetapi kita sendirilah yang harus menciptakan kebahagiaan itu. Semakin mencari kebahagiaan di luar dari diri, maka hanya penderitaan yang akan kita dapatkan. Karena sesungguhnya kebahagiaan sejati ada dalam diri yaitu dengan berupaya memancarkan kasih nurani kepada sesama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here