Dia yang Bersikap Baik-Tidak Baik, Sebenarnya telah Berbudi Padaku

0
962
Dia yang Bersikap Baik-Tidak Baik, Sebenarnya telah Berbudi Padaku

Pandanglah dengan Hati Nurani yang Sempurna, sesungguhnya segala hal yang mendatangkan keuntungan maupun kerugian, kedua-duanya telah berbudi kepada diriku. Orang yang baik – yang menguntungkan – adalah orang yang berbudi pada kita. Demikian pula orang yang jahat – yang senantiasa merugikan – dia pun telah berbudi kepada kita. Mengapa demikian? Karena baik yag menguntungkan ataupun merugikan, semuanya ada dalam pengaturan LAOMU atas diri kita.
Selama laksaan tahun, sudah begitu banyak dosa karma yang telah kita lakukan. Keakuan dan keterikatan telah mengakar kuat di dalam hati. Ditambah lagi berbagai sifat buruk seperti malas, iri hati, dan benci, semua ini bagaikan noda yang menutupi hati nurani. “Jika semua orang menghormati dan menuruti kemauanku”, sungguh sulit bagi kita untuk membersihkan noda-noda batin tersebut.

Dalam membina Ketuhanan, LAOMU, Buddha Maitreya, dan Kedua Guru Agung mengatur agar kita berada di dekat orang-orang yang tidak rukun dengan kita. Di sekeliling kita terdapat orang-orang yang sering mengecewakan, merugikan, menghina, bahkan memfitnah kita. LAOMU, Buddha Maitreya, dan Kedua Guru Agung ingin melihat, bagaimana cara kita menghadapi mereka? Pada saat itu, bila yang keluar dari hati kita yang terdalam adalah pikiran-pikiran yang tidak baik – seperti gunung api yang meletus memuntahkan laharnya – berarti kita telah menampilkan sisi yang terburuk dari diri sendiri. Hati benci, tidak puas, amarah, semua itu akan membakar habis diri kita, merusak mata, wajah, pikiran, kesehatan, dan sebagainya. Dengan demikian terpapar jelaslah segala keburukan dalam diri yang harus diperbaiki.

Segala macam konflik dan ketidakharmonisan kita dengan orang lain sesungguhnya dapat membantu kita menggali keluar semua penyakit hati. Dengan demikian barulah kita dapat mengikis segala keangkuhan, keserakahan, dan sebagainya. Setiap konflik biasanya membuat kita menderita. Hati dipenuhi kegelisahan dan beban batin, sehingga makan tidak enak dan tidur pun tidak nyenyak. Akhirnya kita merasa tidak bersemangat, putus asa untuk melanjutkan pembinaan. Pada kondisi kritis seperti inilah kita benar-benar diuji, apakah kita dapat berintrospeksi – menilik ke dalam diri sendiri. Jika dapat berpaling ke dalam diri, berarti kita sedang melanjutkan perjalanan menuju pantai keselamatan dan keterbebasan. Sebaliknya jika kita tidak dapat berpaling, kita semakin tidak puas dan selalu menyalahkan orang lain. Ini berarti kita sedang menuju arah sebaliknya, yatiu jurang kehancuran dan kebinasaan jiwa.

Hanya dengan berpaling menemukan diri, barulah kita dapat menyadari segala sifat buruk, kekurangan, dan kelemahan yang kita miliki. Barulah kita sadar, bahwa walau telah membina dan mengamalkan Ketuhanan selama bertahun-tahun, segala keakuan, kesombongan, keserakahan, sifat keras kepala, suka cari muka, dan lainnya, belum juga kita tanggalkan. Sungguh, kita telah menyia-nyiakan pembinaan selama ini. Meniliklah ke dalam diri, betapa malu dan bersalahnya diri ini. Inilah saat terbaik lahir menjadi manusia baru, kembali berganti wajah, inilah saat yang tepat untuk merubah kepintaran dunia menjadi kearifan, mengubah kilesa menjadi Watak Bodhi. Inilah momen-momen peralihan dari dunia samsara menuju alam abadi. Inilah saat-saat yang penuh dengan pelepasan, meraih kebebasan, merdeka tanpa ikatan kesesatan diri.

Kemelekatan dan keakuan yang ada dalam diri tidaklah mudah untuk dilepaskan. Kemerdekaan hati tidak bisa dicapai hanya dengan membaca buku ataupun mempelajari dan mendalami kitab suci. Segala puji syukur kepada LAOMU yang telah mengatur cara yang paling baik bagi kita yaitu dengan mengalami berbagai kegagalan, hambatan, kesulitan, dan keterjatuhan. Hanya dengan menghadapi semua ini, barulah kita dapat memecahkan segala kemelekatan dan keakuan yang telah mengakar dalam jiwa.

Cara terbaik dan termudah untuk menghancurkan ego dan keterikatan diri adalah dengan gesekan permasalahan atau konflik yang timbul antarmanusia, walau itu menyakitkan. Misalnya atasan tidak suka dengan kita. Bagaimanapun kita telah berusaha berprestasi cemerlang, mereka tetap tidak senang, bahkan kita dikesampingkan dan dimarahi tanpa peduli benar atau salah. Kita dituntut tanpa belas kasihan, sehingga keadaan menjadi serba salah. Saat demikian, bagaimanakah tindakan kita?

Bagaimanapun kita harus tetap kuat dan tabah, sehingga dapat menyelesaikan perjuangan pembinaan ini. Sadarlah, saat itu kita sedang menjalani operasi pembedahan tumor Nurani yang ganas. Tumor ini telah mendarah daging dan berurat akar karena telah dibiarkan hidup selama laksaan tahun. Tanpa menjalani proses pengobatan dan operasi besar-besaran, bagaimana mungkin bisa mencabutnya? Walaupun sangat menyakitkan, kita harus bisa dan rela menjalaninya dengan tabah demi kesembuhan dan keselamatan jiwa. Demikianlah, aku berusaha agar dapat menerima sikap atasan, demi mengobati ‘tumor ganas’ yang sudah menggerogoti seluruh jiwa. Segala keterikatan, keakuan, iri, benci, sombong, semuanya harus dikorek habis. Agar tidak kambuh lagi, maka operasi yang dijalankan harus bisa mencabut sampai ke akar-akarnya. Inilah manfaat yang diperoleh dari tindak tegas atasan. Jika tidak demikian, sulit bagi kita untuk kembali sembuh dan pulih seutuhnya seperti sedia kala.

Demikianlah, Kebenaran Sejati perlu dilihat dari sisi kebalikannya. Jika perjalanan pembinaan terlalu mulus, lancar, dan bebas hambatan, malah akan semakin berbahaya. Saat itu kita menjadi lengah dan mudah tergiur oleh keinginan untuk mendapatkan sanjungan dan pujian. Jika dasar pondasi hati belum mantap dan kuat, Hati Nurani yang Sempurna belum menguasai diri, semua pujian itu justru akan membawa petaka yang lebih menyakitkan.

Sebaliknya jika Hati Nurani yang Sempurna telah menjadi pengendali diri, segala kondisi baik-buruk, lancar-penuh rintangan, sukses-gagal, berkah-musibah, pujian-cacian, semua ini akan kita terima dengan rasa syukur yang dalam. Tidak ada sedikitpun niat untuk menyalahkan LAOMU atau orang lain. Bila Hati Nurani yang Sempurna telah berkuasa atas diri, walau melihat manusia, masalah, makhluk, dan benda yang tidak sempurna, kita akan merasakan bahwa semua telah berbudi jasa kepada kita. Inilah wujud nyata bekerjanya Hati Nurani yang Sempurna: bersyukur atas segalanya – senantiasa bersyukur.

Gunakanlah Hati Nurani yang Sempurna dalam melihat semua orang, maka dia yang bersikap baik maupun tidak baik terhadap diriku, sebenarnya telah berbudi padaku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here