Berbahagialah untuk Hidup!

0
1546
Hidup Sederhana

Ketika kita terjebak di dalam rutinitas hidup yang semakin monoton dan membosankan, seringkali kita berpikir bahwa mengapa pekerjaan kita tidak ada habisnya? Apakah hidup kita akan terus begini dan berakhir seperti itu? Kapan semua pekerjaan dan kewajiban ini akan selesai? Sepertinya tidak ada batasnya lagi karena terus di kejar dan terlilit oleh rutinitas yang membosankan seolah tidak ada habisnya.

Tetapi jangan cepat putus asa terlebih dahulu karena ketika kita mulai mempertanyakan semua itu, maka sesungguhnya kita sudah sampai di ambang pintu kebahagiaan yang akan mengantar kita kepada sebuah akhir yang manis. Hal yang perlu kita lakukan adalah sabar menunggu hari kebebasan dimana pasti selalu ada akhir yang manis untuk setiap kegundahan.

Perlu kita renungkan bahwa tidak ada satupun yang kekal di dunia ini. Begitupun setiap masalah yang datang dalam kehidupan kita karena setiap awal selalu ada akhir dan setiap masalah yang datang pasti selalu diiringi dengan solusi/ jawaban dari masalah tersebut. Masalah yang sebenarnya terletak di dalam diri kita sendiri. Apakah diri ini bisa sedikit lebih bersabar lagi untuk sebuah akhir yang manis itu?

Semua sah-sah saja, ketika kita terus mengerjakan hal yang sama dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, bahkan tahun ke tahun, yang akhirnya membuat kita jadi begitu bosan dan tertekan. Rasanya tidak pernah ada akhir dari sebuah tugas/ masalah dan mungkin saja kita sudah terlalu putus asa untuk sekedar berpikir apakah yang kita lakukan sudah tepat dan sesuai jalurnya. Mungkin kita akan menjadi depresi atau bahkan mulai menyalahkan situasi dan kondisi. Singkatnya, kita akan lupa untuk berbahagia dan ketika itu terjadi maka hidup kita sedang berada dalam keadaan yang genting dan memprihatinkan.

Bukanlah tidak mungkin depresi dan keputus-asaan akan membuat diri ini kehilangan semangat untuk melanjutkan hidup. Apabila hal tersebut terjadi maka berhati-hatilah sebab kita akan semakin dekat pada sebuah jalan pintas untuk melarikan diri dari kenyataan/ bahkan mengakhiri hidup ini tanpa pertimbangan yang logis dan jernih.

Boleh saja bosan pada rutinitas hidup yang dijalani, itu hal yang wajar! Boleh saja meratapi diri sendiri bahkan mencap diri sendiri sebagai orang yang paling malang di dunia tetapi ratapan itu tidak akan membuat kita berhenti dan tidak melakukan apa-apa lagi.

Cobalah berpikir dengan akal sehat jikalau menginginkan hidup yang tidak ada kewajiban dan tanggungjawab, sama sekali tak ada pekerjaan atau rutinitas yang memburu kita, bisakah kita bayangkan bagaimana bentuk kehidupan yang akan dijalani? Hanya anak kecil yang belum tahu apa-apa, orang cacat, orang sakit, orang tua/uzur yang tidak bisa melakukan apa-apa, dan harus mengandalkan pelayanan orang-orang di sekelilingnya. Apabila kita berpikir seandainya ada satu hari dimana bisa terbebas dari segala rutinitas, tanggungjawab, kewajiban, dan segala hal lainnya yang harus dilakukan, maka berhati-hatilah! Mungkin saja kita akan menjadi salah seorang dari yang disebutkan di atas atau bahkan sudah berada di ambang kematian. Maukah kita menjadi orang yang tidak bisa melakukan apa-apa di dalam hidup ini?

Bukankah lebih baik punya segudang rutinitas, tanggung jawab, kewajiban bahkan pekerjaan yang seolah tidak ada habisnya untuk dikerjakan dibandingkan menjadi seorang yang tidak bisa melakukan apa-apa dan hidup hanya mengandalkan orang lain saja? Bukankah memberi itu lebih baik daripada menerima dan melayani itu jauh lebih bermakna dibandingkan dilayani orang lain?

Intinya, tidak ada rutinitas kerja/ tugas yang tidak ada habisnya yang akan mematikan hidup seseorang. Justru orang yang tidak punya kesibukan dan tidak mampu berkarya dalam hidupnya yang seolah telah mati sebelum mati. Mengapa tidak bergembira dan berbahagia menjalani rutinitas hidup yang paling membosankan sekalipun dibandingkan terus meratapi diri dan menanti-nanti kapan hari kebebasan itu akan datang?

Ketika kita merasa diri ini begitu lelah menapaki hidup yang monoton dan penuh dengan kewajiban yang tak ada habisnya, maka berpalinglah sejenak kepada para Orang Suci yang telah mendedikasikan hidupnya untuk Tuhan dan sesama. Bukankah kesibukan yang kita rasakan terlalu berat dan penuh penderitaan ini sama sekali tidak sebanding dengan pengorbanan besar yang telah didedikasikan para Abdi Tuhan yang mulia? Bahkan penderitaan yang kita rasakan begitu berat dan seolah tidak berujung sama sekali tidak sebanding dengan apa yang telah dialami Mereka yang rela mengabdikan hidupnya untuk Tuhan dan sesama.

Janganlah terlalu memanjakan diri dan seolah-olah sudah begitu menderita di dalam hidup, padahal sebetulnya penderitaan yang dialami karena diri ini terlalu picik dan egois. Singkatnya, berbahagialah untuk hidup ini, sebab hidup ini terlalu beharga untuk disia-siakan begitu saja. Kebanyakan orang hanya berharap hidup untuk berbahagia sementara mereka lupa bagaimana berbahagia untuk hidup mereka. Ketika hanya berharap hidup untuk berbahagia maka kita terus mencari-cari kebahagiaan hidup yang semu dan tidak kekal di luar sana. Sebaliknya ketika mulai mencoba berbahagia untuk hidup yang telah dimiliki barulah akan mampu memancarkan kebahagiaan Nurani yang telah dimiliki seutuhnya di dalam diri ini untuk menjalani kehidupan. Dengan demikian, hidup baru benar-benar bermakna ketika mampu berbahagia untuk hidup dan bukan sekedar hidup untuk berbahagia.

“Satu kantong kebahagiaan telah penuh terisi dan siap dibagikan. Di saat diri ini menyadari berbahagia untuk hidup lebih dari sekedar hidup untuk berbahagia”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here