Belajar Lupa

0
965

Lupa sering dikonotasikan dengan sifat yang negatif. Biasanya orang yang mudah lupa sering dianggap pikun. Namun dalam tulisan ini justru mengajak kita untuk belajar lupa. Sebuah pertanyaan yang muncul dalam diri kita dalah mengapa harus belajar lupa? Apa yang harus dilupakan dan apa yang tak boleh dilupakan?
Apa yang harus kita lupakan? Belajar lupa atas kata-kata yang menyakitkan yang pernah ditumpahkan kepada kita baik disengaja ataupun tidak disengaja, kata-kata dan sikap yang melukai hati yang bersifat untuk menggembleng pertumbuhan jiwa kita maupun kata-kata dan dan sikap penghinaan, kata kasar dan menusuk lubuk hati terdalam.
Lalu apa yang tak boleh dilupakan? Budi kebajikan Laomu, Buddha Maitreya, Shi Zun Shi Mu, para sesepuh dan pandita, orang-orang yang ada disekitar kita, misi dan tanggung jawab yang harus diemban. Namun kebanyakan dari kita sering mengingat apa yang seharusnya dilupakan dan melupakan apa yang seharusnya diingat. Karena itu ternyata belajar lupa untuk hal yang satu ini ternyata tak mudah.
Ibarat luka yang sudah berdarah, kesakitan yang amat sangat, bahkan telah mencapai klimaks akan berakibat pada kebencian dan dendam yang tidak pernah putus kalau tidak diputuskan. Apalagi jika yang mencaci maki, yang melukai hati dengan kata-kata yang menyakitkan adalah orang yang dekat dengan kehidupan kita, tentu sakit hati menjadi berlipat. Lalu bagaimana proses untuk lupa bekerja dan memberikan efek yang efektif? Bagaimana bisa? Tentu BISA!
Cara Lupa
Melupakan kata-kata dan sikap yang menyakitkan tentu tidaklah mudah. Namun bukan berarti tidak bisa. Kekuatan dan kemampuanmanusia memang ada batasnya, namun percayalah ada sebuah kekuatan yang tiada batas, yaitu kekuatan LAOMU dan Buddha Maitreya. Karena itu langkah pertama kita untuk belajar melupakan adalah berdoa dan bersujud, memohon LAOMU membukakan kearifan dan memohon kepada Buddha Maitreya agar bisa melapangkan dada untuk melupakan apa yang telah kita alami. Kekuatan Laomu dapat mengubah segala yang tidak mungkin menjadi mungkin melampaui semua batas logika. Langkah kedua adalah belajarlah untuk memaafkan. Membuka pintu maaf dalam diri akan membuat kita melupakan semua peristiwa yang menyakitkan ini.
Menyimpan dan mengingat terus semua hal yang menyakitkan hanya akan menjadi duri dalam jiwa kita yang mendatangkan penderitaan dan akhirnya yang rugi adalah diri sendiri. Ketika kata-kata yang menyakitkan itu meluncur dari mulut seseorang, itu sudah bagaikan jarumyang meluncur dan menusuk hati kita, lalu kita lakukan lagi aksi menyimpan semua kata-kata yang menyakitkan itu, ibaratnya kita sudah jatuh ditimpa tangga pula. Artinya kita semakin menambah kesakitan di dalam diri.
Mengingat dan menyimpannya dalam hati pada akhirnya akan menjadi boomerang bagi diri sendiri. Badan jadi tak sehat, kepala selalu sakit dan jantung selalu berdebar-debar karena depresi yang harus ditanggung oleh diri sendiri. Apakah semua ini pantas untuk kita terima dengan terus menyakiti diri sendiri? Kapan kita bisa memberikan kebahagiaan pada diri kita sendiri? Mungkin kita berpikir apakah hidup ini tidak adil? Sebenarnya kitalah yang membawa penderitaan itu hadir dalam jiwa dan hati kita.
Buddha Maitreya telah membawa sebuah resep yang paling manjur yaitu lapangkan hati dan bukalah lebar-lebar pintu maaf dalam hatimu. Memaafkan akan membuat kita melupakannya. Memaafkan berarti kita tidak membiarkan hidup kita dalam kesakitan, dengan kata lain kita mengasihgi hidup kita. Dipandang dari segi bisnis, tentu kita tidak mau rugi kan? Kalau kita terus member feedback negative kedalam diri, maka kita sudah dalam posisi rugi. Jadi manakah yang kita pilih, untung atau rugi?
Berkah Lupa
Perjuangan untu melupakan memang tidak mudah. Namun jika itu kita perjuangkan terus, pasti akan ada hasilnya. Kita akan mengalami kebahagiaan yang luar biasa berupa pembebasan jiwa yang sulit kita lukiskan dengan ucap dan kata. Seolah selama ini kita telah membawa sampah yang menjijikan didalam tubuh dan kini sampah itu telah pergiuntuk selamanya. Badan menjadi sehat hatipun selalu berbahagia. Kebahagiaan yang berupa pelepasan ini sungguh sangat luar biasa.
Satu kemenangan didalam diri telah berhasil kita raih. Tidak hanya kemenangan tetapi juga satu pertumbuhan jiwa yang luar biasa yang tidak bisa dibeli dengan benda paling berharga sekalipun didunia ini. Hari berganti hari dengan satu kemajuan didalam membina Ketuhanan. Menjadi orang yang berjiwa besar, lapang dada dan tentu bercinta kasih. Semua perilaku, sikap dan cara kita melangkah, semua ini juga mengambil bagian memberikan satu tel;adan mulia bagi semua umat. Tentu ini juga menjadi peluang kita untuk melakukan amal secara tidak langsung dan ini juga merupakan momen kita dalam mengikis dosa dan karma kita. Hubungan dengan orang yang telah menabur kata-kata yang menyakitkan pun tetap terpelihara harmonis.
Begitulah segala yang berlalu biarkanlah berlalu. Kita belajar untuk melupakannya dan memaafkannya, kembali membuka lembaran baru dengan tunas-tunas kebahagiaan yang siap merekah.
Kebencian dan dendam tidak jadi berbaris dimedan tempur, namun memilih langkah mundur karena perang tidak akan pernah terjadi. Juga karena tentu kebahagiaan, keharmonisan dan kedamaian tidak pernah menberi izin untuk masuk dan memporak-porandakan semuanya. Dengan demikian hubungan antar sesama akan selalu harmonis, rukun, tentram dan bahagia. Pada akhirnya dunia satu keluarga akan semakin cepat jadi kenyataan. Mari berjuang bersama.(Embun Pagi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here