Alam Semesta Adalah Ladang Mustika

0
1437
Alam Semesta Adalah Ladang Mustika
Alam Semesta Adalah Ladang Mustika

Di dalam dinamika ada ketenangan, di dalam ketenangan ada dinamika, inilah fenomena alam semesta. Keheningan alam merupakan saat alam semesta beristirahat dan memulihkan energi kehidupan, sementara dinamika alam adalah energi kehidupan yang bergelora dan berkelanjutan. Malam yang tenang adalah proses istirahat dan pembaharuan energi kehidupan yang teramat penting bagi alam. Juga merupakan momen terbaik bagi manusia untuk merasakan kehangatan belaian kasih Sang Pencipta. Bagai seorang bayi yang tidur dalam kehangatan pelukan kasih ibundanya di malam hari. Hangatnya pelukan kasih sang bunda membuat si bayi tertidur dengan begitu pulas, begitu bahagia, begitu manis, begitu tenang dan damai. Sungguh, malam hari adalah waktu istirahat yang penting! Sang Bunda Semesta juga memanfaatkan malam hari untuk membelai semua anak-Nya di dunia. Ia ingin kita merasakan kehangatan kasih-Nya, merasakan ketenangan dan kedamaian di dalam pelukan-Nya. Sang Bunda Semesta ingin kita mengetahui bahwa sesungguhnya kita adalah anak-Nya yang paling bahagia!

Kita harus mengerti mengapa Tuhan menciptakan siang dan malam. Siang hari adalah saat dinamika, malam hari adalah saat hening. Setelah mencapai puncak dinamika maka kita memasuki keheningan, setelah mencapai puncak keheningan maka dinamika kehidupan dimulai kembali. Di dalam dinamika terdapat keheningan, di dalam keheningan terdapat dinamika, demikianlah fenomena alam semesta.

Jadi, malam hari sesungguhnya adalah waktu yang diberikan Tuhan bagi kita untuk beristirahat, untuk memulihkan stamina tubuh setelah letih beristirahat. Di tengah keheningan malam kita memulihkan kondisi tubuh agar esok hari memiliki semangat untuk beraktivitas. Pada hakekatnya malam adalah kasih Bunda Semesta yang dicurahkan kepada kita. Sungguh disayangkan, kemajuan teknologi dan gaya hidup materialistis yang marak dewasa ini telah merusak keheningan malam yang indah itu. Lampu yang terang benderang dinyalakan sepanjang malam, membuat malam menjadi siang. Demi pemuasan dan kenikmatan nafsu manusia, siang dan malam diputarbalikkan. Gaya hidup yang serba terbalik inilah yang telah merusak sistem alam dalam pemulihan energi kehidupannya.

Seorang ahli kesehatan melaporkan bahwa budaya manusia terkini yang kurang menyehatkan adalah kerja hingga larut malam. Apabila waktu istirahat dan kerja manusia sejalan dengan ritme alam, misalnya saat matahari terbenam kita beristirahat, maka tubuh manusia akan memiliki waktu yang cukup untuk proses pemulihan tenaga, sehingga stamina tubuh dapat kembali prima, sehat dan penuh energi.

Tetapi manusia sekarang umumnya memiliki pola pandang yang salah, menganggap dirinya harus bekerja hingga larut malam agar bisa disebut sebagai manusia modern. Terlebih kini hidup kita didukung oleh materi yang berlimpah dan kemajuan iptek yang pesat, sehingga malam dan pagi tidak jauh berbeda, dan ada kalanya di malam hari kita tidak ingin beranjak tidur. Akibatnya tubuh kita tidak memiliki waktu yang cukup untuk pemulihan stamina. Pada akhirnya diri sendirilah yang mengalami kerugian. Seorang yang suka begadang, sistem kekebalan tubuhnya perlahan-lahan berkurang sehingga mudah jatuh sakit.

Seandainya kehidupan kita sejalan dengan ritme alam semesta, saat pagi menyingsing kita mulai berkerja, saat senja tiba kita mulai beristirahat, maka badan kita pasti akan sangat sehat! Lihatlah petani-petani desa, bukankah kesehatan mereka jauh lebih baik dari kita? Mengapa demikian? Karena kehidupan mereka selaras dengan alam semesta!

Sang ahli juga menyampaikan, jika waktu bekerja dan istirahat manusia selaras dengan peredaran matahari dan rembulan, selaras dengan langit dan bumi, maka manusia bisa bertahan hingga usia 150 tahun. Demikianlah pentingnya momen malam hari bagi setiap kehidupan. Mengatur waktu istirahat dan aktivitas sejalan dengan ritme alam semesta adalah cara yang sangat praktis untuk mencegah berbagai penyakit dan menjaga stamina. Jika jalan cara ini dijalankan, niscaya tubuh kita sehat dan jiwa pun riang dan bahagia. Inilah cara menjaga kesehatan yang paling mendasar.

Keheningan bumi adalah untuk mengayomi dan mempertahankan keberlangsungan kehidupan laksa makhluk. Lihatlah, meski hening tak bersuara, diam tak berucap kata, bumi mengayomi miliaran kehidupan yang tak terkira. Namun manusia yang kurang bijak dan serakah malah dengan semena-mena merusak bumi: menebang, membangun, menggarap, dan menggunakan lahan tanpa batas. Dengan sesuka hati manusia merusak ekosistem, merubah kondisi tanah dan struktur bumi. Sungguh, manusialah sumber dari segala musibah. Jadi sadarlah kita untuk selalu melihat dan belajar dari alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here